Ada satu angka tentang pendidikan Yogyakarta yang jarang disebut, dan angka itu bukan tentang seberapa bagus sekolah terbaiknya. Yang tidak biasa dari provinsi ini adalah berapa banyak sekolahnya yang masuk jajaran atas — dari kolam yang sebenarnya sangat kecil.
Pada pemeringkatan berbasis nilai UTBK 2022, 15 sekolah dari DI Yogyakarta masuk seratus besar nasional. Provinsi ini hanya punya 181 SMA. Bandingkan kedua angka itu sebentar sebelum melanjutkan.
Tiga sekolah dalam lima belas besar nasional
Yang paling menonjol bukan sekadar jumlahnya, tapi seberapa rapat mereka mengelompok di puncak. Tiga SMA negeri Yogyakarta berada di lima belas besar nasional sekaligus — dan ketiganya berada di kota yang sama, dalam radius yang bisa ditempuh bersepeda.
Secara keseluruhan, 58 sekolah Yogyakarta masuk seribu besar nasional: 27 di antaranya bahkan masuk 250 besar. Yang berada di posisi paling bawah dari daftar ini menempati peringkat 956.
Dari 58 sekolah tersebut, 52 adalah SMA dan 6 adalah SMK. Komposisi negerinya juga tegas: 44 sekolah negeri berbanding 14 sekolah swasta.
Kenapa perbandingan proporsi lebih jujur daripada perbandingan jumlah
Provinsi besar hampir selalu menempatkan lebih banyak sekolah di daftar nasional mana pun, semata karena sekolahnya lebih banyak. Membandingkan jumlah mentah antara provinsi berpenduduk puluhan juta dengan provinsi sekecil ini tidak memberi tahu apa-apa.
Yang lebih berarti adalah proporsinya. Dari seluruh 2.688 sekolah di Yogyakarta — semua jenjang, SD sampai SMK — hanya 2,2 persen yang punya sinyal mutu ini. Angka itu tampak kecil, dan memang kecil, karena UTBK hanya mengukur satu jenjang: lulusan SMA dan SMK yang mendaftar ke perguruan tinggi negeri. Seluruh 1.838 SD dan 462 SMP di provinsi ini tidak punya sinyal setara, dan tidak ada satu pun sumber terbuka yang menyediakannya.
Apa yang sebenarnya diukur angka ini
Bagian ini perlu dibaca pelan, karena di sinilah kebanyakan daftar peringkat menyesatkan pembacanya.
UTBK adalah ujian masuk perguruan tinggi negeri. Nilai rata-rata sebuah sekolah pada ujian itu mencerminkan lulusan yang memilih mendaftar PTN — bukan seluruh lulusannya, dan sama sekali bukan seluruh muridnya. Sekolah yang sebagian besar lulusannya melanjutkan ke luar negeri, ke perguruan tinggi swasta, ke sekolah kedinasan, atau langsung bekerja akan tampil rendah atau tidak muncul sama sekali, tanpa hal itu mengatakan apa pun tentang mutu pengajarannya.
Ini menjelaskan kenapa hanya 6 SMK yang muncul di daftar, padahal Yogyakarta punya 207 SMK. Jalur vokasi memang tidak dirancang mengarah ke seleksi PTN. Ketiadaan SMK di daftar ini adalah cerminan tujuan pendidikannya, bukan kegagalannya.
Hal kedua yang tidak diukur: nilai tambah. Sekolah yang menerima murid dengan nilai masuk tinggi dan meluluskan mereka dengan nilai tinggi terlihat sama baiknya dengan sekolah yang menerima murid dengan kemampuan beragam lalu mengangkatnya secara berarti. Padahal keduanya sangat berbeda, dan yang kedua justru lebih sulit dilakukan. Tidak ada metrik publik di Indonesia yang bisa membedakan keduanya.
Kenapa datanya tahun 2022, dan kenapa kami tidak menggantinya
Pertanyaan yang wajar muncul: kenapa memakai angka dari beberapa tahun lalu?
Jawabannya sederhana dan tidak menyenangkan. Angka UTBK per sekolah terakhir dibuka ke publik untuk tahun 2022. LTMPT, lembaga yang menerbitkannya, dibubarkan pada 2023, dan sampai halaman ini ditulis belum ada penggantinya yang membuka data setara ke publik.
Menghadapi kekosongan itu ada dua jalan. Satu, merakit pemeringkatan sendiri dari bahan yang tidak bisa diperiksa siapa pun — hasilnya terlihat mutakhir dan tidak bisa dipertanggungjawabkan. Dua, tetap memakai sumber terakhir yang sah sambil menyebut tahunnya di setiap tempat angkanya muncul.
Kami memilih yang kedua. Timbanglah konsekuensinya sendiri. Sebuah angkatan lulusan sepenuhnya berganti dalam tiga tahun; begitu pula sebagian guru yang mengajarnya. Sekolah yang sedang menanjak mungkin belum terlihat menanjak di sini, dan sekolah yang sedang kehilangan tenaga pengajar terbaiknya mungkin masih terlihat baik-baik saja. Angka ini menggambarkan keadaan pada satu titik waktu yang sudah lewat, dan kami menyebut titik itu setiap kali menampilkannya.
Cara memakai daftar ini tanpa tersesat
Bila anak Anda menuju SMA dan PTN adalah tujuan yang realistis, daftar 58 sekolah ini berguna sebagai titik awal — bukan sebagai keputusan.
Baca sebagai kelompok, bukan sebagai tangga. Selisih beberapa poin antara peringkat 300 dan 400 nasional hampir pasti tidak mencerminkan perbedaan yang akan dirasakan anak Anda sehari-hari. Yang bermakna adalah perbedaan antar kelompok besar, bukan antar posisi berdekatan.
Perhitungkan jarak sejak awal, bukan belakangan. Konsentrasi sekolah berperingkat tinggi di Yogyakarta sangat timpang secara geografis: 20 dari 58 berada di Yogyakarta saja, sementara Gunungkidul hanya punya 1. Perjalanan satu jam setiap pagi selama tiga tahun adalah ongkos sungguhan bagi anak Anda, dan tidak ada skor mana pun yang menghitungnya.
Jangan mencoret sekolah yang tidak ada di daftar. Tidak muncul di seribu besar bukan berarti buruk. Itu hanya berarti sekolah tersebut tidak menempatkan cukup banyak lulusan pada seleksi PTN 2022 untuk masuk hitungan — dan untuk mayoritas dari 181 SMA dan 207 SMK di provinsi ini, itulah keadaannya.
Setelah menyaring, tinggalkan angkanya. Ketika daftar pendek Anda tinggal tiga sampai lima sekolah, peringkat berhenti membantu. Yang tersisa adalah pertanyaan yang tidak punya kolom di basis data mana pun, dan hanya bisa dijawab dengan datang ke sekolahnya.
Beberapa yang menurut kami paling banyak mengungkap: apa yang terjadi pada murid yang tertinggal pelajaran di sana — dibiarkan, ditambal les di luar, atau ditangani sekolah? Bagaimana keputusan penjurusan diambil, dan seberapa besar suara anak di dalamnya? Ketika ada konflik antar murid, siapa yang menangani dan berapa lama biasanya selesai? Dan pertanyaan paling sederhana yang jawabannya sering paling jujur: berapa banyak guru yang mengajar di sana lebih dari lima tahun?
Sekolah yang terbiasa terbuka akan menjawab keempatnya dengan contoh, bukan dengan prinsip. Jawaban yang berupa slogan biasanya berarti pertanyaannya memang belum pernah dipikirkan.
Satu catatan tentang membaca daftar ini bersama anak Anda
Daftar peringkat punya efek samping yang jarang diperhitungkan: ia mudah berubah menjadi ukuran harga diri. Anak yang tahu dirinya "hanya" diterima di sekolah peringkat sekian membawa angka itu ke tahun pertamanya, dan angka itu tidak membantunya belajar apa pun.
Bila Anda membicarakan halaman ini dengan anak Anda, ada baiknya menyebut juga apa yang tidak diukurnya — bahwa nilai rata-rata sebuah sekolah pada satu ujian di satu tahun tidak mengetahui apa pun tentang dirinya, dan bahwa sebagian besar hal yang membuat tiga tahun ke depan berjalan baik justru tidak muncul di tabel mana pun.
Telusuri sendiri seluruh daftarnya lewat peringkat SMA, atau bandingkan beberapa sekolah berdampingan dengan alat bandingkan. Rumus dan bobot yang kami pakai — berikut bagian yang tidak menguntungkan untuk diakui — dibuka di halaman metodologi.